Lebaran, hari kemenangan bagi umat muslim, adalah momen penuh sukacita dan kebersamaan keluarga. Kumpul bersama orang terkasih, santap hidangan lezat, dan saling bermaaf-maafan, menjadi pemandangan umum yang menghiasi hari raya. Namun, di balik gemerlap kebahagiaan tersebut, ada hati-hati yang mungkin merasakan duka yang mendalam.
Membagikan kebahagiaan di media sosial, menunjukkan momen-momen indah bersama keluarga, adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun, kita perlu mengingat bahwa tidak semua orang merasakan hal yang sama. Ada yang merayakan Lebaran tanpa kehadiran orang tua, pasangan, atau orang-orang terkasih yang telah tiada. Bagi mereka, Lebaran bukan sekadar hari kemenangan, melainkan hari di mana kerinduan begitu terasa.
Bayangkanlah, di saat banyak orang tertawa dan berbagi kebahagiaan, mereka mungkin hanya bisa mengenang sosok-sosok yang telah pergi. Kenangan indah menjadi penghibur sekaligus penyegar luka. Namun, kenangan itu juga bisa menjadi sumber kesedihan yang tak tertahankan. Sesak dada, air mata yang tak terbendung, mungkin menjadi teman setia mereka di hari raya.
Oleh karena itu, marilah kita lebih peka dan empati terhadap sesama. Jangan sampai euforia kebahagiaan kita justru melukai hati mereka yang sedang berduka. Meskipun kita tidak bisa menghapus kesedihan mereka, sedikit kehati-hatian dalam berbagi kebahagiaan di media sosial bisa menjadi bentuk penghormatan dan dukungan. Sadarilah bahwa kesedihan mereka juga layak untuk dihargai.
Di balik keceriaan Lebaran, mari kita tanamkan nilai-nilai kepedulian dan empati. Semoga kita semua dapat merayakan Lebaran dengan penuh makna, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Semoga Lebaran menjadi pengingat akan pentingnya saling menghargai dan memahami perasaan sesama, terutama bagi mereka yang sedang merasakan duka.