Senin pagi, 10 Juli 1933, menjadi hari yang kelam bagi pasukan Marsose di Lhoksukon, Aceh Utara. Kapten Charles Emile Schmid, komandan Divisi V Marsose, tewas secara tragis di tengah kegiatan rutin apel dan latihan pasukan. Kejadian ini mengungkap sisi gelap perlawanan Aceh terhadap penjajahan Belanda, sebuah kisah yang terukir dalam sejarah dengan nama Amat Leupon.
Pagi itu, Kapten Schmid memimpin apel dan latihan baris-berbaris pasukannya. Suasana tampak normal hingga seorang warga setempat mendekati sang komandan. Dengan hormat, warga tersebut memberi salam. Namun, di balik salam hormat itu tersembunyi niat jahat. Dengan gerakan cepat dan tepat, warga tersebut, yang kemudian diketahui bernama Amat Leupon, menghujamkan rencongnya ke tubuh Kapten Schmid.
Serangan mendadak itu menyebabkan kepanikan di antara pasukan Marsose. Beberapa prajurit bergegas menyelamatkan komandan mereka yang bersimbah darah, sementara yang lain menyerang Amat Leupon yang hanya berbekal rencong. Perlawanan Amat Leupon, meskipun sendirian, cukup gigih. Namun, akhirnya ia tewas di tangan seorang prajurit Marsose bernama Asa Baoek, yang kemudian dianugerahi bintang salib perunggu oleh pemerintah Belanda atas jasanya.
Kapten Schmid, yang menderita luka parah, segera dilarikan ke rumah sakit di Lhoksukon. Namun, nyawanya tak tertolong. Ia meninggal dunia dalam perjalanan. Jenazahnya kemudian dimakamkan di kompleks pekuburan Belanda, Kerkhof Peucut, di Kutaraja (Banda Aceh).
Identitas Amat Leupon hingga kini masih menjadi misteri. Banyak sumber sejarah hanya menyebutnya sebagai warga biasa. Namun, aksinya yang berani dan nekat menjadi bukti nyata perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajahan Belanda. Kisah ini menjadi bagian penting dari sejarah perang Aceh dan tercatat dalam berbagai buku sejarah, seperti buku karya Tjoetje, "Perkuburan Belanda Peutjuet Membuka Tabir Sedjarah Kepahlawanan Rakyat Atjeh" (1972).
Kerkhof Peucut sendiri menyimpan sejarah kelam penjajahan Belanda di Aceh. Kompleks pekuburan militer Belanda terbesar di luar negeri ini, seluas 3,5 hektare, menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sekitar 2.200 prajurit, baik dari Belanda maupun dari suku Jawa dan Ambon yang tergabung dalam Korps Marsose, bagian dari KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger). Kisah Kapten Schmid dan Amat Leupon menjadi salah satu dari sekian banyak cerita yang terukir di kompleks pekuburan bersejarah ini, mengingatkan kita pada perjuangan dan pengorbanan dalam sejarah Aceh.