Kisah Daud Beureueh, pahlawan Aceh yang pernah berjuang bersama Soekarno, merupakan tragedi yang menyayat hati. Setelah menyerahkan Aceh kepada Republik Indonesia, ia justru menjadi musuh besar rezim Orde Lama dan Orde Baru. Perjuangannya untuk Aceh, yang berkelana dari hutan ke hutan, berakhir dengan kematian yang tragis di penjara pada 10 Juni 1987.
Daud Beureueh, seorang pejuang ulung, takluk bukan oleh kekuatan musuh di medan perang, melainkan oleh usia dan kelelahan. Pemerintah Indonesia, ibarat pemburu yang sabar, menunggu waktu yang tepat untuk menangkap buruannya yang telah tua dan lelah. Dari satu penjara ke penjara lain, Daud Beureueh menghabiskan sisa hidupnya dalam bayang-bayang ketidakadilan.
Ironisnya, akhir hayat Daud Beureueh mencerminkan bagaimana pemerintah Indonesia membalas jasa para pahlawan luar Jawa. Ia menyerahkan Aceh, bahkan mengumpulkan sumbangan rakyat Aceh untuk membeli pesawat bagi Indonesia, namun dibalas dengan pengasingan dan kematian di balik jeruji besi. Kisah ini mengingatkan kita pada nasib Tgku Markam, yang menyumbangkan emas untuk pembangunan infrastruktur di Jawa, namun nasibnya pun tak jauh berbeda.
Perbandingan nasib Daud Beureueh dan Tgku Markam mengungkap sebuah realita pahit: pengorbanan dan jasa besar tak selalu dihargai. Mereka yang berjuang untuk persatuan Indonesia, dari luar pulau Jawa, seringkali dipinggirkan dan bahkan dianiaya. Kisah Daud Beureueh bukan hanya sebuah catatan sejarah, tetapi juga sebuah pengingat akan pentingnya menghargai jasa para pahlawan dan memastikan agar pengorbanan mereka tidak sia-sia.